
Seoul, Korea Selatan – Atlet panjat tebing putri Indonesia, Rajiah Sallsabillah, kembali mencatatkan sejarah gemilang dengan meraih medali emas dalam kategori Speed World Record Women di ajang IFSC World Climbing Championship 2025 yang digelar di Seoul. Ia berhasil mencatatkan waktu 6,24 detik, memecahkan rekor dunia yang sebelumnya dipegang oleh atlet Polandia, Aleksandra Miroslaw.
Kemenangan ini tidak hanya menambah koleksi prestasi Indonesia di kancah olahraga internasional, tetapi juga semakin mengokohkan posisi Indonesia sebagai kekuatan dominan dalam cabang olahraga panjat tebing dunia, khususnya di kategori kecepatan (speed climbing).
Laga Final: Dominasi Tanpa Cela
Rajiah tampil luar biasa sejak babak kualifikasi. Di babak final, ia berhadapan dengan rival kuat dari China, Song Yafei, yang juga merupakan peraih medali perak di Olimpiade Paris 2024. Dalam final head-to-head, Rajiah melesat secepat kilat, menyentuh bell dalam waktu 6,24 detik—unggul lebih dari 0,15 detik dari lawannya.
“Saya tidak hanya membawa nama saya, tapi juga semangat jutaan pemuda Indonesia yang percaya bahwa mimpi bisa dicapai dengan kerja keras,” ujar Rajiah usai menerima medali sambil menitikkan air mata.
Perjalanan Rajiah: Dari Aceh ke Dunia
Rajiah Sallsabillah, atlet asal Lhokseumawe, Aceh, telah mengharumkan nama bangsa sejak usia 16 tahun. Dikenal karena kekuatan tangan dan kecepatan refleks luar biasa, ia telah memenangkan berbagai gelar, di antaranya:
-
Emas Asian Games Hangzhou 2022
-
Perak Kejuaraan Dunia Bern 2023
-
Finalis Olimpiade Paris 2024
Prestasinya kini tidak hanya disegani di Asia, tapi juga di Eropa dan Amerika. Banyak pelatih internasional menyebutnya sebagai “Spiderwoman dari Timur” karena tekniknya yang nyaris sempurna dan mental bertandingnya yang dingin.
Kemenangan Tim Indonesia: Bukan Hanya Rajiah
Tak hanya Rajiah, tim Indonesia juga tampil gemilang di kejuaraan ini:
-
Kiromal Katibin (putra): meraih perunggu di kategori speed men.
-
Desak Made Rita Kusuma: tembus 5 besar dan memecahkan personal best.
-
Tim junior Indonesia U-18: meraih emas kategori speed relay campuran.
Dengan hasil ini, Indonesia berada di posisi kedua klasemen akhir medali kejuaraan dunia panjat tebing, hanya kalah dari tuan rumah Korea Selatan.
Dampak Besar di Tanah Air: Bonus dan Program Regenerasi
Kemenangan Rajiah disambut antusias di seluruh Indonesia. Kementerian Pemuda dan Olahraga mengumumkan pemberian bonus Rp1,5 miliar, serta pembangunan Wall Climbing Center Internasional di Surabaya dan Medan untuk mendukung pelatihan atlet nasional.
PB FPTI juga mengumumkan program:
-
“Talenta Vertikal 2026”: perekrutan bibit baru dari 34 provinsi
-
Beasiswa atlet panjat tebing untuk kuliah dalam & luar negeri
-
Turnamen panjat tebing digital interaktif dengan teknologi VR untuk edukasi remaja
Dipuji Dunia dan Disorot Media Internasional
Media-media ternama seperti BBC Sport, ESPN, hingga The New York Times menyoroti keberhasilan Indonesia dalam mencetak talenta luar biasa di cabang olahraga yang belum terlalu populer di dunia, namun memiliki potensi besar dalam olimpiade dan ekspansi global.
“Indonesia telah membuktikan bahwa semangat, ketekunan, dan sistem pelatihan yang fokus bisa menghasilkan atlet kelas dunia, bahkan tanpa infrastruktur megah seperti negara maju,” tulis Climbing Magazine dalam editorialnya.
Penutup
Kemenangan Rajiah Sallsabillah di Kejuaraan Dunia Panjat Tebing 2025 bukan sekadar medali emas—melainkan simbol ketangguhan, kecepatan, dan kejayaan olahraga Indonesia di mata dunia. Di dinding tebing buatan setinggi 15 meter itu, ia tidak hanya memanjat untuk menang, tetapi juga memanjat untuk mengangkat nama bangsanya ke puncak dunia.