“Kompor Meleduk” adalah salah satu karya Benyamin Sueb yang menampilkan kemampuan legendarisnya dalam menyampaikan kritik sosial melalui musik dan humor. Lagu ini dirilis pada era ketika Benyamin menjadi ikon musik Betawi yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyindir kondisi sosial masyarakat Jakarta.
Nuansa Musik
Musik dalam lagu ini tetap membawa ciri khas Benyamin Sueb: perpaduan dangdut, keroncong, dan musik Betawi. Ritmenya enerjik, ringan, dan mudah diikuti, membuat pesan satire yang terkandung di dalamnya terdengar jenaka dan tidak menggurui. Suara khas Benyamin yang jenaka namun ekspresif menambah kekuatan liriknya.
Makna Lirik
“Kompor Meleduk” menyampaikan kritik sosial yang dikemas dengan humor khas Betawi:
-
Sindiran terhadap perilaku masyarakat yang ceroboh, tidak disiplin, atau mudah panik, digambarkan dengan metafora “kompor meleduk”—sesuatu yang bisa meledak kapan saja akibat kelalaian.
-
Cerminan kehidupan sehari-hari rakyat Jakarta, di mana Benyamin dengan cerdik mengangkat situasi rumah tangga, pekerjaan, dan interaksi sosial dengan cara jenaka.
-
Pesan moral terselip di balik komedi, mendorong pendengar untuk berhati-hati, menjaga diri, dan lebih bijaksana dalam menghadapi masalah sehari-hari.
Resonansi dengan Pendengar
Pendengar Betawi maupun non-Betawi menikmati lagu ini karena kemampuannya memadukan humor, kritik sosial, dan musik yang menyenangkan. Lagu ini sering dibawakan di pertunjukan panggung, festival musik, maupun acara hiburan keluarga, karena mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Popularitas dan Pengaruh
“Kompor Meleduk” menjadi contoh klasik bagaimana musik bisa menjadi medium kritik sosial tanpa kehilangan unsur hiburan. Benyamin Sueb dikenal mampu mengangkat isu sosial dengan cara ringan namun tajam, dan lagu ini tetap relevan sebagai refleksi budaya urban Betawi.
Kesimpulan
“Kompor Meleduk” menegaskan kejeniusan Benyamin Sueb sebagai musisi dan pengamat sosial. Humor yang disisipkan dalam lagu menjadi alat penyampaian pesan yang efektif, menjadikan karya ini bukan hanya menghibur, tetapi juga membuka mata pendengar terhadap kondisi sosial di sekitar mereka. Lagu ini tetap abadi sebagai salah satu mahakarya musik Betawi yang sarat makna.