
Jakarta, 15 Juli 2025 – Dunia hiburan Indonesia kembali mencatat fenomena unik dan mengejutkan. Serial original berjudul “Sunda Empire: The Rise” yang tayang perdana di platform streaming NusantaraFlix minggu lalu, mendadak viral dan mencetak lebih dari 10 juta penonton dalam 5 hari. Serial bergenre fiksi satir-politik ini mengangkat kisah fiktif tentang kebangkitan “kerajaan dunia” Sunda Empire dengan pendekatan sinematik yang kreatif, jenaka, dan penuh kritik sosial.
Meski sempat dianggap kontroversial karena mengadaptasi sosok dan peristiwa yang pernah menghebohkan publik Indonesia pada tahun 2020, serial ini berhasil mengubah kisah tersebut menjadi hiburan cerdas dan menghibur, sekaligus menyentil berbagai aspek budaya populer, politik, dan media sosial tanah air.
Kisah Fiktif, Satire Cerdas
“Sunda Empire: The Rise” bercerita tentang Dr. Rangga Atmadja, mantan dosen sejarah yang tiba-tiba mendeklarasikan kebangkitan kembali kerajaan dunia Sunda Empire setelah menemukan “dokumen rahasia” di ruang bawah tanah Gedung Sate. Bersama murid-muridnya yang eksentrik, ia berusaha mengembalikan tatanan dunia lama sambil merekrut “duta besar” di berbagai kota.
Yang unik, serial ini dikemas dengan gaya mockumentary dan elemen fantasi ala “The Office” bertemu “Game of Thrones versi lokal.” Penonton dibuat tertawa, berpikir, dan terkadang tergelitik karena banyak adegan yang menyindir fenomena nyata: mulai dari teori konspirasi, politisi viral, hingga kecanduan warganet terhadap sensasi aneh.
Pemeran dan Produksi Berkelas
Serial ini dibintangi oleh aktor-aktor ternama seperti:
-
Lukman Sardi sebagai Dr. Rangga
-
Tora Sudiro sebagai Letnan Imperial Mars
-
Asri Welas sebagai Panglima Komunikasi Digital
-
Aghniny Haque sebagai rekrutan muda yang idealis
-
Cameo spesial dari Denny Chandra, Soleh Solihun, dan Reza Rahadian
Disutradarai oleh Gina S. Noer, serial ini menggunakan pendekatan gaya teater dokumenter dengan sinematografi eksperimental, kostum teatrikal, serta latar belakang lokasi eksotik seperti Goa Jepang, Lawang Sewu, hingga bunker Belanda di Bandung.
Reaksi Publik dan Dampak Budaya
Meskipun mengusung satire, “Sunda Empire: The Rise” mendapat sambutan luar biasa dari berbagai kalangan. Kritikus film menyebutnya sebagai “terobosan naratif di tengah stagnasi serial lokal”, sementara publik menjadikannya bahan meme dan pembicaraan hangat di TikTok dan X.
Komentar seperti:
“Antara ngakak, mikir, dan merinding. Serial ini gila tapi jenius.”
“Akhirnya ada tontonan lokal yang satir tapi nggak merendahkan penonton.”
Selain itu, merchandise seperti kaos ‘The Great Empire Shall Return’, stiker lambang kekaisaran, dan bahkan “paspor Sunda Empire” edisi koleksi, langsung ludes terjual secara online.
Kritik dan Apresiasi
Tentu saja, tak semua menyambut hangat. Beberapa tokoh yang terkait dengan kisah aslinya menyampaikan keberatan, meski tim produksi menegaskan bahwa serial ini fiksi penuh dan tidak bermaksud menghina siapa pun.
Namun, apresiasi datang dari komunitas seniman, aktivis digital, dan akademisi. Banyak yang menyebut serial ini sebagai “puncak satire lokal modern”, yang mampu memadukan humor, sejarah, dan kritik sosial dalam format yang mudah dicerna dan menghibur.
Penutup: Dari Lelucon Jadi Legenda Layar Kaca
“Sunda Empire: The Rise” membuktikan bahwa Indonesia mampu menciptakan tontonan unik dan berani, yang tidak hanya menghibur tapi juga mengajak penontonnya berpikir dan bercermin.
Ketika kisah viral absurd diubah menjadi seni, ia tidak lagi sekadar lelucon internet — ia menjelma jadi cermin budaya, dan kini juga… legenda digital.