Buku Mengenal Diri, Menemukan Ilahi Spiritualitas Karya jalansunyi.

Pendidikan adalah pilar utama peradaban, namun sering kali direduksi hanya sebagai urusan kurikulum, ujian, dan nilai rapor. Di tengah geliat reformasi pendidikan nasional, masih banyak anak-anak Indonesia yang duduk di bangku sekolah tanpa merasakan makna sejati dari proses belajar.

Pendidikan seharusnya membentuk karakter, membangun keberanian berpikir kritis, dan menumbuhkan empati sosial. Namun realitas di lapangan sering kali berbeda: sekolah menjadi tempat hafalan semata, guru dibebani administrasi yang menumpuk, dan siswa kehilangan ruang untuk berekspresi.

Lebih dari itu, ketimpangan akses pendidikan antara kota dan daerah masih begitu mencolok. Di satu sisi, teknologi disanjung sebagai solusi pembelajaran digital, tapi di sisi lain, banyak anak di pelosok belum punya akses listrik yang stabil, apalagi internet cepat.

Pemerintah memang telah meluncurkan berbagai program—dari Merdeka Belajar hingga penguatan literasi digital. Namun, tanpa evaluasi menyeluruh dan pelibatan aktif komunitas sekolah, semua itu bisa menjadi sekadar slogan.

Epilog Editorial

Pendidikan tidak boleh berjalan sendiri sebagai proyek negara. Ia harus menjadi tanggung jawab bersama: pemerintah, guru, orang tua, dan masyarakat. Editorial ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk mengingatkan bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas generasi muda hari ini.

Jika kita ingin menyemai harapan di ruang-ruang kelas, mari mulai dari mendengarkan mereka yang setiap hari berada di dalamnya—para guru dan siswa. Sebab, pendidikan yang manusiawi dan bermakna lahir bukan dari kebijakan semata, tetapi dari kepedulian nyata yang terus hidup.