Jakarta, 5 September 2026 – Sebuah unggahan di Facebook yang menampilkan sejumlah foto Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo berada di lokasi kebakaran hutan dan lahan beredar dengan narasi seolah-olah peristiwa tersebut terjadi pada September 2026. Unggahan itu menggambarkan Jokowi disebut kembali turun langsung ke lokasi kebakaran di tengah meningkatnya perhatian terhadap karhutla di sejumlah daerah. Narasi yang menyertai foto mencoba memberikan kesan bahwa kunjungan tersebut merupakan kegiatan terbaru yang dilakukan secara diam-diam. Namun hasil pemeriksaan fakta menunjukkan klaim tersebut tidak sesuai dengan konteks sebenarnya. Foto-foto yang digunakan memang memperlihatkan Jokowi berada di kawasan terdampak kebakaran, tetapi dokumentasi itu bukan berasal dari September 2026. Gambar tersebut diketahui merupakan dokumentasi lama ketika Jokowi masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia pada 2019.
Unggahan yang beredar menyertakan narasi bahwa banyak pihak mengira Jokowi telah pergi, tetapi kemudian disebut kembali secara diam-diam ke lokasi kebakaran. Penggunaan foto nyata membuat informasi tersebut sekilas terlihat meyakinkan, terlebih ketika isu kebakaran hutan dan lahan kembali mendapatkan perhatian publik. Tidak terdapat keterangan yang memadai dalam unggahan untuk menjelaskan bahwa gambar sebenarnya diambil beberapa tahun sebelumnya. Perubahan konteks waktu inilah yang membuat informasi menjadi menyesatkan karena masyarakat dapat menganggap foto tersebut sebagai dokumentasi kejadian terkini. Pemeriksaan terhadap jejak digital gambar kemudian menunjukkan foto yang sama telah dipublikasikan jauh sebelum September 2026. Dengan demikian, persoalannya bukan pada keaslian kegiatan yang terlihat dalam foto, melainkan pada narasi waktu yang dilekatkan pada dokumentasi tersebut.
Penelusuran terhadap dokumentasi asli menunjukkan Jokowi memang pernah mengunjungi lokasi kebakaran hutan dan lahan di Riau pada 17 September 2019. Ketika itu, Jokowi mendatangi Desa Merbau, Kecamatan Bunut, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, untuk melihat langsung penanganan karhutla. Kunjungan dilakukan ketika kebakaran hutan dan lahan menimbulkan persoalan serius di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Jokowi ketika itu masih menjabat sebagai presiden dan melakukan perjalanan bersama sejumlah pejabat pemerintah serta unsur penanganan bencana. Dokumentasi dari kegiatan tersebut kemudian tersimpan dan dapat ditemukan kembali melalui penelusuran arsip digital. Foto lama itulah yang kembali digunakan pada unggahan September 2026 dengan konteks berbeda.
Dalam kunjungan pada 2019 tersebut, Jokowi meninjau kawasan bekas kebakaran setelah sebelumnya melaksanakan salat Istisqa untuk memohon turunnya hujan. Ia menempuh perjalanan menggunakan helikopter dari Pekanbaru menuju Desa Merbau sebelum melihat kondisi lapangan. Saat berada di lokasi, Jokowi menyoroti kesulitan memadamkan kebakaran apabila api telah masuk ke lapisan gambut. Api pada lahan gambut dapat tetap bertahan di bawah permukaan meskipun secara visual bagian atas terlihat telah padam. Kondisi itu membuat pencegahan menjadi salah satu strategi yang terus ditekankan dalam pengendalian karhutla. Dokumentasi ketika Jokowi berada di kawasan tersebut kemudian banyak digunakan dalam pemberitaan mengenai kebakaran hutan dan lahan pada September 2019.
Konteks tahun menjadi unsur penting untuk memastikan kebenaran informasi yang beredar melalui media sosial. Sebuah foto dapat merupakan dokumentasi autentik, tetapi menjadi informasi keliru apabila digunakan untuk menggambarkan peristiwa berbeda tanpa penjelasan. Praktik semacam itu relatif sulit dikenali hanya dengan melihat visual karena tidak selalu terdapat perubahan atau manipulasi pada gambar. Pengguna media sosial dapat menganggap sebuah dokumentasi sebagai kejadian terbaru ketika narasi yang menyertainya menggunakan keterangan waktu terkini. Dalam kasus foto Jokowi, penelusuran arsip memperlihatkan jejak publikasi gambar sudah tersedia sejak tujuh tahun sebelumnya. Karena itu, klaim bahwa foto tersebut menunjukkan Jokowi mengunjungi lokasi kebakaran hutan pada September 2026 tidak dapat dibenarkan.
Pemeriksaan juga menemukan unggahan yang membawa narasi tersebut tidak hanya mengarahkan perhatian pengguna kepada isu karhutla. Tautan yang disertakan pada konten diketahui mengarahkan pengguna menuju halaman produk pada salah satu platform perdagangan elektronik. Pola semacam ini menunjukkan konten yang menarik perhatian dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan jumlah klik menuju halaman tertentu. Penggunaan nama tokoh publik serta isu bencana mempunyai kemampuan menarik rasa ingin tahu masyarakat sehingga berpotensi meningkatkan interaksi. Karena itu, pengguna media sosial perlu berhati-hati terhadap unggahan yang menggunakan narasi dramatis kemudian meminta pembaca membuka tautan eksternal. Pemeriksaan terhadap alamat tujuan dan konteks informasi menjadi penting sebelum pengguna melakukan interaksi lebih jauh.
Kasus tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya melakukan penelusuran balik terhadap foto yang beredar di internet. Pemeriksaan sederhana dapat dilakukan dengan mencari elemen visual yang sama dan membandingkannya dengan dokumentasi terdahulu. Tanggal publikasi, lokasi, pakaian tokoh, orang yang mendampingi, serta kondisi lingkungan dapat membantu menentukan kapan sebuah gambar sebenarnya diambil. Apabila foto pernah muncul dalam publikasi beberapa tahun sebelumnya, klaim yang menyebutnya sebagai dokumentasi terbaru perlu dipertanyakan. Metode ini sangat berguna untuk mengidentifikasi informasi yang menggunakan foto asli tetapi mengubah konteks tempat maupun waktu. Dalam kasus Jokowi, dokumentasi kunjungan ke Pelalawan pada 2019 menjadi bukti utama untuk membantah narasi yang muncul pada September 2026.
Dokumentasi Jokowi ketika meninjau karhutla pada 2019 sebelumnya juga pernah menjadi objek manipulasi informasi dalam bentuk lain. Salah satu foto pernah diedit sehingga Jokowi terlihat seolah-olah meneteskan air mata ketika berada di lokasi kebakaran. Pemeriksaan terhadap gambar tersebut menunjukkan elemen air mata ditambahkan secara digital, sementara foto aslinya memang diambil saat kunjungan Jokowi ke Riau. Kasus berbeda juga pernah menggunakan dokumentasi kunjungan yang sama dengan mengganti atau memanipulasi konteks latar belakang foto. Riwayat tersebut memperlihatkan satu dokumentasi lama dapat digunakan kembali berkali-kali untuk mendukung narasi yang sama sekali berbeda. Masyarakat karena itu perlu memperhatikan bukan hanya apakah sebuah foto asli, tetapi juga apakah keterangan yang menyertainya sesuai dengan peristiwa sebenarnya.
Beredarnya kembali foto lama terjadi ketika kebakaran hutan dan lahan memang menjadi isu yang mendapat perhatian pada September 2026. Kondisi tersebut dapat membuat unggahan lebih mudah dipercaya karena visual kebakaran terlihat sesuai dengan situasi yang sedang diperbincangkan masyarakat. Penggunaan momentum peristiwa terkini merupakan salah satu pola yang dapat membuat informasi lama memperoleh konteks baru dan kembali tersebar luas. Pembaca yang tidak memeriksa tanggal asli dokumentasi berpotensi menganggap seluruh unsur dalam unggahan sebagai kejadian aktual. Situasi semacam itu menunjukkan pentingnya literasi digital ketika masyarakat menerima informasi melalui media sosial. Pemeriksaan terhadap tanggal, lokasi, dan konteks asli perlu dilakukan sebelum konten diteruskan kepada pengguna lainnya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, klaim bahwa foto yang beredar menunjukkan Jokowi kembali mendatangi lokasi kebakaran hutan dan lahan pada September 2026 dapat dikategorikan sebagai informasi keliru. Foto yang digunakan merupakan dokumentasi nyata, tetapi berasal dari kunjungan Jokowi ke Desa Merbau, Kecamatan Bunut, Kabupaten Pelalawan, Riau, pada 17 September 2019. Tidak ditemukan bukti dari dokumentasi tersebut yang mendukung narasi bahwa foto memperlihatkan kegiatan Jokowi pada September 2026. Perbedaan waktu tujuh tahun menjadi unsur utama yang mengubah makna dari unggahan tersebut. Masyarakat disarankan memeriksa kembali informasi yang memanfaatkan dokumentasi tokoh publik, khususnya apabila disertai narasi sensasional dan tautan menuju halaman lain. Verifikasi konteks menjadi langkah penting agar foto autentik tidak digunakan untuk membangun pemahaman yang keliru mengenai sebuah peristiwa.








