Jakarta, 22 September 2026 – Operasi pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda menyimpan berbagai cerita mengenai perjuangan tim SAR di lapangan. Salah satunya datang dari Komandan Pos SAR Bakauheni Kantor SAR Lampung, Rezie Kuswara Nunyai, yang memimpin Rigid Inflatable Boat (RIB) 02 Bakauheni selama pencarian. Tim harus bergerak di wilayah laut yang luas dengan kondisi cuaca dan gelombang yang berubah-ubah. Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga menjadi faktor yang harus terus diperhitungkan untuk menjaga keselamatan petugas. Seluruh unsur pencarian harus menyeimbangkan upaya menemukan korban dengan risiko yang dihadapi selama operasi.
Rombongan yang dicari terdiri atas lima jurnalis, kapten kapal, seorang ABK, dan seorang pemandu. Mereka berangkat menggunakan speedboat Arupadhatu 1 dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Salah seorang anggota rombongan sempat mengirimkan titik lokasi sekitar pukul 14.42 WIB sebelum komunikasi kemudian terputus. Kantor SAR Banten menerima laporan mengenai hilangnya kontak rombongan tersebut pada Selasa, 8 September 2026. Sejak saat itu, pencarian dilakukan dengan mengerahkan kapal SAR serta berbagai unsur pendukung.
Dalam misi tersebut, RIB 02 Bakauheni menjadi salah satu armada yang bergerak melakukan penyisiran di kawasan Selat Sunda. Kondisi laut membuat perjalanan tidak selalu berjalan sesuai rencana karena petugas harus menyesuaikan kecepatan dan arah kapal dengan gelombang serta cuaca. Area sekitar Gunung Anak Krakatau juga membutuhkan perhatian khusus mengingat gunung tersebut masih menunjukkan aktivitas vulkanik. Tim tidak dapat sembarangan mendekati kawasan tertentu dan harus mengikuti rekomendasi keselamatan yang berlaku. Kondisi inilah yang membuat setiap pergerakan kapal membutuhkan perhitungan agar pencarian tidak menimbulkan risiko tambahan bagi personel SAR.
Pencarian kemudian terus diperluas dengan mempertimbangkan pergerakan arus, ombak, dan angin. Dalam beberapa hari operasi, wilayah penyisiran dibagi menjadi sejumlah sektor agar armada dapat bekerja secara lebih terarah. Basarnas, TNI AL, Polairud, BPBD, potensi SAR, nelayan, dan masyarakat turut terlibat dalam operasi tersebut. Sejumlah KRI dan kapal lainnya juga dikerahkan untuk memperkuat pencarian di laut. Memasuki hari kesembilan, penyisiran bahkan diperluas hingga perairan yang lebih jauh untuk mengantisipasi kemungkinan objek terbawa arus.
Tantangan lain muncul ketika petugas berupaya mendekati pulau-pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau. Aktivitas vulkanik dan abu membuat akses ke sejumlah titik tidak selalu dapat dilakukan secara langsung. Pada tahap tertentu, tim belum dapat masuk ke Pulau Sertung karena mempertimbangkan kondisi keselamatan. Penggunaan helikopter juga tidak menjadi pilihan utama karena titik dugaan keberadaan korban berada di sekitar kawasan gunung yang masih aktif. Karena itu, kapal tetap menjadi salah satu sarana utama untuk menyisir perairan sekaligus memeriksa objek yang ditemukan selama pencarian.
Skala operasi terus meningkat hingga hari ke-10 pencarian. Basarnas mengerahkan 24 kapal dan membagi wilayah operasi menjadi 10 sektor untuk mengoptimalkan penyisiran. Berbagai temuan yang muncul selama operasi diperiksa satu per satu untuk memastikan apakah memiliki keterkaitan dengan speedboat maupun delapan orang yang dicari. Upaya tersebut memperlihatkan kompleksitas pencarian di kawasan laut terbuka, terutama ketika tidak terdapat kepastian mengenai arah pergerakan kapal setelah komunikasi terakhir. Tim juga harus terus memperbarui perhitungan berdasarkan kondisi arus laut dan informasi yang diperoleh dari lapangan.
Operasi pencarian resmi akhirnya dihentikan pada 17 September 2026 setelah berbagai upaya belum berhasil menemukan lima jurnalis dan tiga awak kapal. Meski demikian, perhatian terhadap keberadaan mereka belum berhenti, sementara keluarga, rekan sesama jurnalis, dan komunitas pers terus memberikan dukungan serta berharap muncul petunjuk baru. Pengalaman para petugas selama pencarian menggambarkan beratnya operasi SAR di tengah karakter perairan Selat Sunda dan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Setiap perjalanan kapal, penyisiran sektor, hingga pemeriksaan objek dilakukan dengan harapan memperoleh petunjuk mengenai keberadaan rombongan tersebut. Operasi dapat kembali dilakukan apabila kemudian ditemukan informasi baru yang dinilai cukup kuat untuk ditindaklanjuti.





