Jakarta, 28 September 2026 – Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) menilai industri media menghadapi tantangan semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi tersebut mulai mengubah cara masyarakat mencari, mengakses, dan mengonsumsi informasi di ruang digital. Perubahan ini menuntut perusahaan media melakukan penyesuaian agar tetap relevan di tengah pergeseran perilaku pembaca. Pada saat bersamaan, prinsip jurnalistik seperti akurasi dan verifikasi tetap harus dipertahankan.
Kehadiran layanan berbasis AI membuat pengguna semakin mudah memperoleh informasi dalam bentuk rangkuman tanpa selalu mengunjungi situs penerbit berita. Perubahan pola tersebut menjadi tantangan bagi media digital yang selama ini mengandalkan kunjungan pembaca sebagai salah satu bagian penting dalam model bisnis. Media harus berhadapan dengan perubahan distribusi konten sekaligus persaingan mendapatkan perhatian masyarakat. Kondisi tersebut mendorong perusahaan pers mencari strategi baru untuk mempertahankan hubungan langsung dengan pembaca.
Tantangan lainnya berkaitan dengan kemampuan teknologi generatif menghasilkan teks, gambar, suara, dan video dalam waktu singkat. Kemampuan tersebut dapat membantu berbagai pekerjaan di ruang redaksi, tetapi juga meningkatkan risiko beredarnya konten yang tidak akurat atau telah dimanipulasi. Informasi yang terlihat meyakinkan belum tentu berasal dari proses jurnalistik dan verifikasi yang memadai. Karena itu, kemampuan melakukan pengecekan fakta semakin penting ketika masyarakat menghadapi volume informasi digital yang terus bertambah.
AMSI memandang penggunaan AI di industri media perlu dilakukan secara bertanggung jawab dan tetap menempatkan manusia sebagai pengendali keputusan editorial. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan seperti transkripsi, pengolahan data, pencarian informasi awal, maupun sejumlah pekerjaan rutin lainnya. Namun, hasil yang dihasilkan sistem AI tetap membutuhkan pemeriksaan sebelum digunakan sebagai bagian dari produk jurnalistik. Tanggung jawab atas konten yang dipublikasikan tetap berada pada redaksi dan perusahaan media.
Persoalan keberlanjutan bisnis juga menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi industri. Perubahan algoritma mesin pencari dan platform digital dapat memengaruhi jumlah kunjungan menuju situs berita, sementara perkembangan AI menghadirkan pola baru dalam distribusi informasi. Media membutuhkan model bisnis yang tidak sepenuhnya bergantung pada lalu lintas dari platform pihak ketiga. Penguatan pelanggan, komunitas pembaca, kualitas konten, dan diversifikasi pendapatan dapat menjadi bagian dari proses adaptasi tersebut.
Di sisi lain, peningkatan kemampuan jurnalis dalam memahami AI menjadi semakin diperlukan. Literasi mengenai cara kerja teknologi dapat membantu pekerja media memanfaatkan AI sekaligus mengenali keterbatasannya, termasuk kemungkinan munculnya informasi keliru, bias, persoalan hak cipta, dan manipulasi konten. Perusahaan media juga membutuhkan pedoman internal yang jelas mengenai penggunaan teknologi tersebut. Transparansi menjadi penting agar pembaca dapat memahami bagaimana AI digunakan dalam proses produksi jurnalistik.
Di tengah perubahan teknologi, AMSI menempatkan kepercayaan publik sebagai salah satu modal penting bagi keberlanjutan media. Kecepatan menghasilkan informasi tidak dapat menggantikan kebutuhan terhadap verifikasi, konteks, akurasi, dan pertanggungjawaban editorial. Perusahaan media yang mampu memanfaatkan AI tanpa meninggalkan prinsip jurnalistik memiliki peluang lebih besar untuk beradaptasi dengan perubahan ekosistem digital. Perkembangan AI pun menjadi momentum bagi industri media untuk memperkuat kualitas sekaligus membangun pola bisnis yang lebih berkelanjutan.





