Jakarta, 7 September 2026 – Indonesia dinilai perlu memperkuat identitasnya dalam dunia komik melalui pengembangan cerita gambar atau cergam yang mencerminkan cara pandang masyarakat Indonesia. Identitas tersebut tidak harus dibangun dengan menciptakan satu gaya visual khusus yang berbeda dari manga Jepang, komik Amerika, maupun tradisi komik Eropa. Dosen Universitas MNC Iwan Gunawan menilai kekuatan utama cergam Indonesia justru dapat ditemukan pada sudut pandang yang digunakan kreator dalam membaca dan menceritakan kehidupan masyarakat. Pengalaman sosial, politik, ekonomi, pendidikan, hingga kebiasaan sehari-hari masyarakat Indonesia mempunyai karakter yang berbeda dari negara lain. Perbedaan pengalaman tersebut dapat menghasilkan cara bertutur dan merespons persoalan yang khas ketika dituangkan ke dalam cerita bergambar. Dengan pendekatan itu, identitas komik Indonesia tidak perlu dibatasi oleh bentuk gambar tertentu.
Iwan menjelaskan cergam sebaiknya dipahami bukan sebagai sebuah gaya visual, melainkan sebagai cara pandang dalam menyampaikan cerita. Seorang kreator Indonesia tetap dapat menggunakan pendekatan gambar yang terinspirasi manga, komik Amerika, maupun gaya Eropa tanpa otomatis kehilangan identitasnya. Hal yang lebih menentukan adalah bagaimana cerita tersebut melihat suatu persoalan dari pengalaman masyarakat Indonesia. Persoalan yang sama dapat menghasilkan narasi berbeda ketika diceritakan oleh masyarakat dengan latar sosial dan budaya yang berbeda. Karena itu, pencarian identitas komik nasional tidak harus berakhir pada upaya menciptakan bentuk gambar yang seragam. Kebebasan visual justru dapat memberikan ruang lebih luas bagi kreator untuk bereksperimen selama karya tersebut mempunyai sudut pandang yang kuat.
Pandangan tersebut disampaikan Iwan dalam sesi bincang-bincang mengenai perkembangan komik Indonesia di Jakarta pada Minggu, 6 September 2026. Diskusi tersebut turut menghadirkan kartunis Beng Rahadian serta kartunis sekaligus sutradara Fajar Nugros. Pembahasan mengenai identitas komik Indonesia menjadi penting di tengah kuatnya pengaruh berbagai produk budaya populer internasional. Manga Jepang, misalnya, telah menjadi salah satu bacaan yang sangat dikenal masyarakat Indonesia selama beberapa dekade. Pengaruh tersebut kemudian terlihat dalam karya sejumlah kreator lokal, terutama dari sisi desain karakter dan teknik visual. Namun, penggunaan pendekatan visual dari luar negeri tidak harus dianggap sebagai hambatan selama kreator mampu menghadirkan konteks kehidupan Indonesia di dalam ceritanya.
Iwan mencontohkan isu feminisme sebagai salah satu persoalan yang dapat diangkat oleh kreator dari berbagai negara. Meskipun topiknya sama, masyarakat Indonesia dapat mempunyai cara berbeda dalam melihat dan merespons persoalan tersebut karena tumbuh dalam lingkungan sosial, pendidikan, ekonomi, dan budaya yang berbeda. Kondisi serupa dapat berlaku terhadap tema keluarga, pekerjaan, kehidupan perkotaan, hubungan antargenerasi, hingga berbagai persoalan sosial lainnya. Detail kehidupan yang dianggap biasa bagi masyarakat Indonesia justru dapat menjadi unsur pembeda ketika dituangkan ke dalam karya. Identitas dengan demikian muncul secara organik dari pengalaman pembuat cerita dan lingkungan tempat mereka hidup. Pendekatan tersebut dinilai lebih luas dibandingkan sekadar menempatkan simbol budaya tertentu di dalam gambar.
Identitas Indonesia dalam cergam juga tidak harus selalu diwujudkan dengan menampilkan batik, wayang, rumah tradisional, atau unsur budaya yang mudah dikenali secara visual. Elemen-elemen tersebut tetap dapat digunakan apabila memang relevan dengan cerita, tetapi bukan satu-satunya cara menunjukkan bahwa sebuah karya berasal dari Indonesia. Kultur masyarakat juga dapat hadir melalui bahasa, cara berinteraksi, hubungan keluarga, humor, kebiasaan, hingga respons tokoh terhadap situasi tertentu. Kehidupan sehari-hari masyarakat perkotaan maupun pedesaan dapat menjadi sumber cerita yang sama kuatnya dengan legenda dan cerita rakyat. Dengan demikian, karya yang mengangkat kehidupan kontemporer tetap dapat mempunyai identitas Indonesia meskipun tidak menggunakan simbol tradisional secara eksplisit. Cara pandang tersebut membuka kemungkinan tema cergam menjadi jauh lebih beragam.
Beng Rahadian menilai salah satu karakter yang dapat membedakan cergam Indonesia adalah cara masyarakat bertutur dan berinteraksi. Penggunaan sapaan kepada orang yang lebih tua menjadi contoh sederhana bagaimana konteks Indonesia dapat muncul melalui percakapan antartokoh. Pilihan kata seperti bapak, ibu, mas, mbak, kakak, abang, atau bentuk sapaan lokal lainnya dapat menunjukkan hubungan sosial yang mungkin tidak ditemukan dengan pola yang sama di negara lain. Detail semacam itu terlihat sederhana, tetapi dapat membangun dunia cerita yang terasa dekat dengan pengalaman pembaca Indonesia. Gestur, kebiasaan keluarga, hubungan dengan tetangga, hingga cara masyarakat bercanda juga dapat menjadi bagian dari identitas tersebut. Unsur kultural akhirnya hadir melalui keseluruhan pengalaman membaca, bukan sekadar dekorasi pada latar cerita.
Beng juga tidak mempermasalahkan apabila komikus Indonesia mendapatkan pengaruh kuat dari manga Jepang. Menurutnya, dunia manga sendiri mempunyai variasi visual dan genre yang sangat luas sehingga tidak dapat dipersempit menjadi satu gaya gambar tertentu. Hal yang membuat manga mudah dikenali bukan semata-mata bentuk mata karakter atau teknik ilustrasinya, tetapi juga pola bertutur serta keseharian masyarakat Jepang yang hadir dalam berbagai cerita. Prinsip serupa dapat diterapkan oleh kreator Indonesia ketika mengembangkan cergam. Kreator bebas menyerap berbagai teknik dari perkembangan komik internasional kemudian mengolahnya sesuai kebutuhan cerita. Benang merah berupa kultur dan pengalaman Indonesia dapat menjadi pembeda yang membuat karya tersebut mempunyai karakter sendiri.
Perdebatan mengenai identitas komik Indonesia sebenarnya telah berlangsung selama beberapa dekade. Istilah cergam sendiri memiliki sejarah panjang dan pernah digunakan sebagai bagian dari upaya membangun karakter komik nasional. Pada awal 1960-an, sejumlah kreator di Medan menggunakan istilah tersebut untuk menegaskan keberadaan cerita bergambar yang mempunyai kepribadian dan kedekatan dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya, komik lokal menghadapi persaingan kuat dengan karya impor yang mempunyai jaringan penerbitan dan basis pembaca besar. Iwan mengingat kembali ketika dirinya membantu penyelenggaraan pameran komik Indonesia di Galeri Nasional pada 1997, masih banyak generasi muda yang lebih mengenal komik Jepang dibandingkan karya dalam negeri. Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak untuk terus memperkenalkan kembali sejarah dan perkembangan cergam kepada pembaca muda.
Perjalanan komik Indonesia kemudian mengalami sejumlah momentum kebangkitan dengan munculnya karya-karya yang berhasil membangun kedekatan kuat dengan pembaca. Iwan menilai salah satu periode penting terjadi ketika karya Benny & Mice memperoleh perhatian luas dan mampu mencapai angka cetak ratusan ribu eksemplar. Keberhasilan tersebut memperlihatkan cerita mengenai keseharian masyarakat Indonesia dapat mempunyai daya tarik besar apabila disampaikan dengan pendekatan yang relevan. Perkembangan teknologi kemudian membuka jalur baru melalui komik digital dan berbagai platform daring. Kreator tidak lagi sepenuhnya bergantung pada penerbit konvensional untuk memperkenalkan karya kepada masyarakat. Perubahan tersebut sekaligus memberikan kesempatan lebih luas untuk bereksperimen dengan tema, format, dan gaya visual.
Penguatan identitas cergam Indonesia pada akhirnya dinilai tidak harus dilakukan dengan menutup diri terhadap pengaruh komik dari negara lain. Kreator dapat mempelajari manga, komik Amerika, karya Eropa, maupun berbagai tradisi visual dunia dan menjadikannya bagian dari proses kreatif. Tantangan yang lebih penting adalah menghadirkan cerita dengan sudut pandang yang dekat dengan pengalaman masyarakat Indonesia sehingga karya mempunyai karakter yang dapat dikenali. Kehidupan sehari-hari, bahasa, humor, hubungan sosial, persoalan keluarga, serta dinamika masyarakat menyediakan sumber cerita yang sangat luas untuk dikembangkan. Cergam dapat menjadi ruang bagi kreator untuk merekam sekaligus menafsirkan perubahan kehidupan Indonesia dari masa ke masa. Dengan kebebasan visual dan kekuatan cara bertutur tersebut, identitas komik Indonesia diharapkan tumbuh secara alami dari pengalaman masyarakatnya sendiri.





